Juknis lomba FLS3N Mendongeng 2026
Lomba Mendongeng pada FLS3N SD 2026 merupakan bagian dari tradisi sastra lisan yang dipentaskan sebagai seni pertunjukan tunggal (one man show) tanpa membaca teks atau naskah cerita.
Berikut adalah penjelasan mengenai teknis pelaksanaan dan indikator penilaian agar Anda dapat mempersiapkan diri dengan maksimal:
Teknis Pelaksanaan Lomba
- Mekanisme Tahapan: Lomba dilaksanakan melalui empat tahapan, mulai dari seleksi tingkat sekolah, kabupaten/kota, tingkat nasional babak penyisihan, hingga babak final.
- Materi Cerita: Cerita bersifat fiksi, bisa bersumber dari buku cerita anak, karya asli peserta/guru, atau folklor lisan nusantara. Anda disarankan menggunakan cerita karya asli karena memberikan nilai tambah.
- Durasi dan Format Video: Video berdurasi 5-10 menit (maksimal 2 menit perkenalan, 8 menit mendongeng) dengan rasio 16:9 (landscape), format MP4, dan resolusi minimal 720p.
- Ketentuan Perekaman: Video harus diambil dalam satu kali perekaman (one take) dengan posisi kamera statis dari satu arah depan. Video dilarang disunting (dipotong/disambung) dan tidak boleh ditambah musik ilustrasi atau grafis.
- Kostum dan Properti: Peserta wajib mengenakan seragam sekolah tanpa riasan wajah (make-up), namun boleh menambah ornamen kostum yang selaras dengan cerita. Alat peraga diperbolehkan sebagai pendukung cerita, bukan dekorasi panggung.
- Bahasa: Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan mudah dipahami. Penggunaan Bahasa Daerah diperbolehkan untuk istilah atau kalimat tertentu asalkan segera diikuti terjemahan Bahasa Indonesianya.
Indikator Penilaian
Penilaian dilakukan berdasarkan lima aspek utama dengan bobot yang berbeda:
- Tafsir Cerita Menjadi Peristiwa (30%): Kemampuan menghadirkan kejadian secara imajinatif sehingga penonton merasa menyaksikan dan terlibat secara emosional, bukan sekadar narasi kata-kata. Indikatornya meliputi kejelasan peristiwa, kekuatan dramaturgi, dan respon penonton.
- Tafsir Karakter (20%): Kemampuan menghadirkan watak tokoh melalui perubahan suara, postur, dan gestur. Pendongeng harus berperan tepat sebagai narator (poros cerita) sekaligus penyampai karakter yang jelas melalui transisi yang baik.
- Tafsir Vokal (20%): Vokal dianggap sebagai "panglima utama". Penilaian meliputi tempo (kecepatan bicara), irama (nada naik-turun), artikulasi (kejelasan pengucapan), dan dinamika suara agar dongeng tidak monoton.
- Penghayatan dan Proporsi (20%): Penghayatan adalah proses batin dalam memahami nilai dan suasana cerita agar terasa jujur. Proporsi adalah keseimbangan antar unsur (emosi, narasi, dialog, gerak) agar tidak ada yang berlebihan atau mendominasi.
- Tafsir Ruang (10%): Cara pendongeng mengolah ruang fisik dan imajiner melalui blocking (penataan posisi), gerak tubuh yang bermakna, serta unsur artistik (properti/kostum sederhana) yang bersifat sugestif.
Tips Tambahan:
- Hindari konten negatif: Pastikan naskah sudah disunting dari aspek kekerasan, pembunuhan, percintaan romantis berlebih, atau perselingkuhan.
- Pesan Moral: Tidak perlu menyampaikan kesimpulan atau pesan moral secara eksplisit di akhir dongeng.
- Sumber: Sebutkan judul buku, penulis, dan ilustrator sumber cerita di awal atau akhir penampilan.
Pilihan tema khusus untuk lomba mendongeng FLS3N SD 2026 adalah sebagai berikut:
- Kejujuran sebagai Warisan Leluhur.
- Tanggung Jawab Anak Bangsa dalam Cerita Rakyat.
- Keberanian yang Bijaksana, Bukan Nekat.
- Kesetiaan dan Keteguhan Hati dalam Dongeng Nusantara.
- Kerja Keras dan Kesabaran dalam Kisah Tradisi Lokal.
- Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan.
- Kearifan Lokal sebagai Penuntun Hidup Generasi Muda.
- Dongeng dari Kampungku untuk Indonesia.
Setiap peserta bebas memilih isi cerita dalam dongengnya sesuai dengan salah satu pilihan tema khusus tersebut. Tema-tema ini merupakan turunan dari tema umum lomba, yaitu "Menumbuhkan karakter bangsa melalui kreativitas dan apresiasi seni budaya".
